TELUK BIMA, RIWAYATMU KINI


Semburat mentari menyapakan damai pagi di Teluk Bima. Deret perahu nelayan turut menata keindahan suasana. Mereka mengadu nasib dengan berbagai cara untuk melengkapi dapur dari hari ke hari. Di bagian lain anak-anak bercanda ria bermain di tarian air bening berkaca. Di pinggir pantai berpasir mengkilat bak permata, duduklah beberapa orang gadis yang mengenakan rimpu. Sebentar lagi air akan surut dan mereka akan beradu mengais lumpur, mecari kerang, dan memugut kepiting. Sungguh suasana pagi yang indah, Kawan.

Nun jauh di tengah laut, Kawan. Ada sekumpulan burung bangau, camar, dan elang yang berlomba memburu ikan dikebeningan air. Sesekali mereka bertengger di puncak bagang, mengepakkan sayap, melepaskan air agar bisa terbang lagi. Sungguh indah. Membuat takjub siapapun yang menyaksikannya.

Di seberang barat sana, Kawan. Tampak menjulang hijau gunung Doro Salunga dan Doro Soromandi yang diselingi atap rumah penduduk Donggo. Turun ke ke pesisir,Kawan. Kita akan menyaksikan pohon nyiur yang berderet dari desa Bajo, Jala, Nggembe, Rada, hingga sampai ke Pulau Nisa Sedu di sebelah selatan teluk. Sungguh memesona.

Di sebelah utara berdiri kukuh Pulau Kambing di latari Asakota (Gerbang Teluk Bima). Di Pulau Kambing ini ada tangki minyak peninggalan Jepang, Kawan. Guru-guru sering mengajak siswanya ke tempat ini. Sembari bercerita tentang sejarah bahwa Bima pernah disinggahi penjajah dan turut berjuang melepaskan diri dari penjajah. Ada lagi kawan. Pulau Kambing dikelilingi kebening air dan terumbu karang tempat bermain ikan warna-warni. Lengkaplah sudah surga alam pulau ini.

Dari Pulau Kambing pandangan kita akan menyatu dengan pantai Ule, Kawan. Salah satu tempat wisata yang digemari masyarakat Bima. Pantainya sejuk diribunan aneka pohon. Pasirnya putih tak berlumpur. Airnya sejuk bening. Setiap libur, Pantai Ule tetap menjadi pilihan berwisata. Bahkan saban senja, orang-orang kota menjemput malam di kedamaian Pantai Ule.

Di pesisir timur ada pelabuhan Bima, Kawan. Pelabuhan kebanggaan kami masyarakat Bima yang selalu ramai. Tempat kami menjemput kerabat dan melambai kepergian sanak yang melancong, berdagang atau mengadu nasib di rantau. Pelabuhan yang menghubungkan Bima dengan kota-kota besar lainnya. Di sana ada aktivitas ekonomi. Tempat menyatunya buruh, juragan, pedagang, dan para pelaut dalam suasana saling butuh. Di tempat ini pun menjadi wahana rekreasi murah meriah bagi masyarakat kami. Tempat anak-anak maupun dewasa bermandi ria ataupun memancing.
Masih di pesisir timur, Kawan. Ada Pantai Lawata. Pantai yang melambaikan selamat datang di Kota Bima. Di sini tempat orang segenap penjuru melepas lara, bersuka ria bersama keluarga, kerabat, ataupun sahabat. Airnya yang bening menyentuh bibir pantai yang tertata oleh bebatuan. Bukan itu saja, sepanjang pesisir timur teluk kami benar-benar menyuguhkan pesona wisata yang alami. Ada Oini’U dengan kesejukan pantainya hingga Pantai Kalaki. Pantai landai yang berpasir putih. Tempat rehat melepas penat. Oh, sungguh indah kawan.
Inilah gambaran pesisir dan sajian alam teluk Bima. Teluk yang diapit wilayah Kabupaten dan Kota Bima. Teluk yang dibanggakan oleh semua waraga Bima. Bagi sanak kami yang merantau, pasti merindukan teluk kebanggaan mereka. Yang membuat mereka selalu ingin kembali. 

Tapi itu dulu, kawan. Gambaran itu adalah tataan Teluk Bima yang dulunya asli. Bagian dari masa lalu teluk kami. Kalaupun Anda datang sekarang, hanya sebagian yang tersisa. Keasrian yang pernah ada kini makin pudar.

Pasir putih bak permata perlahan menghilang dari teluk kami. Semua karena ulah manusia. Mereka telah meggerus pasir teluk kami. Belum lagi perluasan pemukiman yang semula berkedok pembukaan tambak baru dan pelebaran jalan yang mengambil area laut. Menyebabkan Teluk Bima makin sempit. Juga banjir yang setiap tahun menumpahkan lumpur dan sampah ke Teluk Bima, menyebabkan pasir kami tak putih lagi. Pantai kami tak seperti dulu lagi.

Para nelayan yang dulu ramai menghiasi teluk, kini sepi. Burung-burung yang mengepak sayap dan mengibas ekor kini tiada lagi. Ikan-ikan teluk kami yang gurih perlahan sirna. Habitatnya sudah hancur. Air teluk yang bening dengan kedalaman sekitar 12 meter sekarang berkisar 7-8 meter dan keruh. Menyedihkan, Kawan.
Di barat sana Gunung Salunga dan Soromandi yang dulunya hijau kini tampak murung. Demikian pula gunung-gunung lain seperti Gunung Ule dan Doro Londa. Semua telah dibabat tanpa adanya penanaman kembali. Pohon kelapa yang memagari pesisir teluk, kini tinggal segelintir saja. Demikian pula Pulau Kambing. Tidak ada lagi cerita guru tentang tangki peninggalan Jepang. Sebab, telah dipotong-potong dan jual kepada pengepul besi bekas oleh orang-orang pintar yang menjabat di daerah kami.

Pantai Lawata kini telah berubah, Kawan. Sedikit demi sedikit digerus untuk pelebaran jalan. Padahal, kalau mereka punya niat, tentu ada solusi lain. Mengapa harus menggerus Lawata? Atau memang pikiran mereka tak sampai ke sana. Bahwa Lawata merupakan warisan wisata Bima yang harus dijaga keasliannya.

Keadaan ini memang sedang merambah pesisir teluk kami, hingga Pantai Kalaki dan Lewamori. Tetapi janganlah berkecil hati, Kawan. Masih ada yang tersisa di sana. Kini usaha penataan oleh pemerintah mulai digiatkan lagi. Pantai Ama Hami dan Kalaki kini akan menjadi primadona lagi. Tentunya dengan harapan agar semua aturan ditegakkan di sini. Jangan biarkan mereka menggerus pasir lagi. Jangan biarkan lumpur dan sampah menodai teluk yang indah ini. Pemerintah, mana kuasamu? Mana suaramu? Pertanyaan itu harus ditagih agar mereka membuktikan bahwa mereka masih punya nurani. Aturan dan undang-undangmu jangan hanya dipajangi. Butuh pengawalan dan tindakan tegas untuk mereka yang tidak peduli.

Namun demikian, Kawan. Sehebat apapun usaha pemerintah, tak akan berarti tanpa keikhlasan warga untuk turut menjaga. Oleh karena itu, kepada masyarakat mari kita menyadari akan pentingnya menjaga kelestarian teluk ini. Sebab, bisa jadi teluk Bima hanya akan tinggal nama. Sepanjang sampah dan lumpur menumpuki. Sepanjang pelebaran pemukiman yang tak terkendali, pasir-pasirnya digerusi dan jangan lupa pohon dan hutan yang turut melatari ditebangi. Sadarlah. (herry)
Share this post :

VIDEO KAMPUNG MEDIA

Arsip Kabar

Pengikut

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. RIMPU CILI - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger